Ia berdiri di suatu tempat dimana sejauh mata memandang, hanya ada permukaan mengkilap seperti kaca yang memantulkan langit di atasnya. Permukaan itu terlihat licin dan dingin seperti lantai marmer, membuatnya ragu untuk melangkah.
Bagaimana kalau itu air?
Ia belum bisa berenang. Membayangkan dirinya tercebur saja sudah membuatnya takut.
Ketika ia berputar pelan, permukaan di bawah kakinya beriak kecil. Ia kaget, dadanya berdebar cepat.
“Hah…?”
Ia menunduk. Pantulan langit di bawah kakinya bergoyang pelan. Ternyata itu bukan marmer tapi air!
“Kok… aku bisa berdiri di atas air?” gumamnya bingung.
Ia menginjak sedikit lebih kuat untuk memastikan. Kakinya tetap tidak tenggelam. Air itu hanya bergetar dan membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang menyebar menjauhinya.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
“Ini mimpi ya…?” bisiknya.
Ia mencubit lengannya pelan. Tidak terasa sakit.
Ia mengangkat wajah dan melihat sekeliling. Tempat ini begitu hening. Suara detak jantungnya sendiri terdengar jelas di telinganya.
Di kejauhan, kabut tipis melayang di atas permukaan air. Dan di balik kabut itu…. ada seseorang.
Ia menyipitkan mata.
Perlahan, kabut itu mulai menipis dan memperlihatkan sosok seorang anak laki-laki yang berdiri diam menatapnya.
Ia melangkah pelan. Dadanya terasa tidak nyaman. Ia takut. Namun ada sesuatu yang aneh. Anak itu terlihat mirip dirinya. Rambutnya saja yang sedikit lebih panjang.
“Hei…” panggilnya pelan. “Kamu siapa?”
Anak itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam memperhatikannya. Cahaya biru samar terlihat di sekeliling tubuhnya, kadang terang kadang redup.
Ia mencoba mendekat lagi. Namun semakin ia berjalan, anak itu tetap terlihat jauh.
Ia berusaha melihat wajah anak itu, tetapi kabut menutupinya. Yang terlihat hanya bentuk tubuhnya dan cahaya biru yang mengelilinginya.
Lalu perlahan, anak itu mengangkat tangannya, menunjuk ke satu arah. Saat itulah suara gamelan terdengar. Pelan dan terasa jauh namun jelas.
Ia berhenti. Matanya mengikuti arah telunjuk anak itu.
Tiba-tiba langit berubah. Awan-awan berputar cepat seperti tersedot pusaran besar. Air di bawah kakinya ikut bergetar. Dunia terasa miring, lalu semuanya mulai kabur.
Cahaya perlahan menghilang. Suara gamelan terdengar semakin jauh, semakin pelan, lalu lenyap.
Semuanya gelap.
Saat ia membuka mata, ia sudah berdiri di dalam sebuah kamar. Udara di sana terasa pengap dan basah.
Ia menatap sekeliling. Jantungnya langsung berdebar kencang.
Ia mengenali kamar itu.
Tirai peach bermotif bunga tergantung di jendela. Lemari kayu tua berdiri di sudut kamar. Di atasnya ada foto keluarga mereka.
Ini kamar Mama dan Papa.
Tapi ada yang salah. Ia berdiri diam beberapa detik. Tidak ada suara apa pun. Tidak ada suara dari luar kamar. Hanya suara AC dan napasnya sendiri yang terdengar.
Perlahan, matanya mengarah ke ranjang. Napasnya tertahan. Di atas tubuh Mama ada bayangan hitam pekat seperti asap tebal.
Mama tidak bisa bergerak. Matanya terbuka lebar. Bibirnya bergerak-gerak seperti sedang mengatakan sesuatu.
Bulu kuduknya berdiri. Tangannya mulai gemetar.
“Mama…?”
Suaranya pelan sekali.
Tidak ada jawaban.
Rasa takutnya langsung berubah menjadi panik. Ia ingin berlari ke arah ranjang, tetapi kakinya terasa berat. Lantainya seperti lumpur yang menahan langkahnya.
Semakin ia berusaha mendekat, semakin sulit ia bergerak. Ranjang itu malah terasa semakin jauh.
Napasnya memburu. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging.
“Mamaaa!” teriaknya. Suaranya bergema aneh. Seperti memantul ke ruangan yang sangat luas sebelum akhirnya hilang.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada suara lain.
Hanya kesunyian…
Lalu ia terbangun dan duduk termenung memikirkan mimpi yang dialaminya tadi.
Saat itu Raka baru berusia lima tahun. Ia belum mengerti apa yang dilihatnya malam itu. Bertahun-tahun kemudian, barulah ia menyadari bahwa mimpi itu adalah awal dari banyak hal yang tidak bisa dijelaskan.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Prolog
Sorry, comment are closed for this post.