Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga,
ia adalah perang batin melawan nafsu yang menggoda,
setiap bisikan dunia terasa begitu menggila,
namun ruh berbisik lembut: tenang, pulanglah pada-Nya.
Beratnya bukan pada perut yang kosong sepi,
melainkan pada hati yang ingin berkuasa tinggi,
beratnya bukan pada dahaga yang membakar diri,
melainkan pada amarah yang sulit sekali dikendali.
Setiap tatapan bisa jadi racun dunia fana,
setiap kata bisa jadi pedang yang menyala,
setiap diam adalah doa yang penuh makna,
setiap sabar adalah cahaya menuju surga.
Puasa adalah jihad sunyi yang suci,
menundukkan ego yang sombong dan iri,
menyulam sabar di antara luka yang perih,
menyucikan jiwa dari debu dunia yang keji.
Wahai diri, jangan kau kira lapar itu biasa,
ia adalah pintu menuju ridha-Nya yang mulia,
jangan kau kira dahaga itu sekadar rasa,
ia adalah sungai yang mengalir ke surga.
Berat, sungguh berat menahan mata dari tipu,
menahan lidah dari kata yang melukai kalbu,
menahan hati dari angan yang palsu,
namun semua itu adalah jalan menuju rindu.
Di balik segala pertempuran yang tak henti,
ada taman yang abadi, tak pernah layu dan mati,
ada embun yang menyejukkan hati,
ada pelukan cinta yang tak bertepi.
Itulah mahabbah Allah, nikmat yang sejati,
melampaui segala rasa, melampaui dunia ini,
di sana lapar menjadi cahaya yang murni,
dahaga menjelma kasih, jiwa pun abadi.
Mahabbah Allah adalah samudra tanpa tepi,
tempat segala rindu berlabuh dan tak pernah pergi,
ia menenangkan hati yang resah dan sunyi,
ia menghidupkan jiwa yang haus akan Ilahi.
Mahabbah Allah adalah mahkota yang suci,
lebih indah dari surga, lebih manis dari dunia ini,
di dalamnya puasa menemukan arti,
bahwa segala berat hanyalah jalan menuju cinta abadi.
Kreator : Baijuri Haromaini
Comment Closed: Puasa, Mahabbah Abadi
Sorry, comment are closed for this post.