IZIN (12)
Malam berganti siang, membawa janji menuju hak untuk ditunaikan. Selepas shalat Ashar, Aina inisiatif untuk berkunjung ke rumah ndalem untuk bertemu Ummi Halimah dengan maksud izin pulang kampung.
Ia tidak berniat menjelaskan detail alasannya pulang kampung. Aina tidak ingin menimbulkan pertanyaan lebih banyak untuk saat ini, terlebih beberapa waktu lalu Ia tidak bisa menerima maksud Gus Asyraf.
“Assalamu’alaikum, Umi.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Ada apa, Na?”
Aina mencium tangan wanita yang ada di hadapannya dengan penuh ta’dzim. “Begini Umi, maksud kedatangan ana, ana mohon izin untuk beberapa hari pulang kampung karena ada keperluan keluarga.”
“Oh begitu. Berapa hari kira-kira, Na?”
“Insya Allah, lusa ana berangkat sekitar pukul delapan pagi dari sini naik kereta, Umi. Insya Allah tidak lebih dari empat hari, Umi.”
“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan, jangan lupa muroja’ah hafalannya. Umi izinkan.”
Aina merasa lega karena sudah menerima izin dari Umi Halimah. Ia pun segera pamit kembali ke kamar.
Dreet…dreet…
Ponsel berdering, Aina mengerutkan keningnya. “Mau apa lagi, Pak Arif?” batinnya.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara pria dari seberang sana.
“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Pak Arif?” Aina menjawab sambil duduk menghadap jendela kamar.
“Lusa jadi kan kita berangkat ke kampungmu?”
“Kita? Kan sendiri-sendiri, Pak. Saya sudah pesan tiket, Bapak juga sudah saya info, kan?” Aina menegaskan.
“Ya… Saya hanya memastikan saja, Na. Takutnya kamu berubah pikiran,” ucap Arif. “Oh iya, kamu punya berapa keponakan?”
“Insya Allah keluarga saya sudah siap menerima kedatangan Bapak dan keluarga. Alhamdulillah, saya punya satu orang keponakan perempuan berusia empat tahun.”
“Siap menerima kedatangan saya dan keluarga??” Arif setengah menggoda.
“Sudah dulu ya, Pak. Saya masih ada kegiatan. Assalamu’alaikum.” Aina segera mengakhiri percakapannya dengan Arif, Ia merasa salah tingkah sendiri.
“Perasaan gak ada yang aneh deh dengan perkataanku barusan. Kenapa Pak Arif jadi ngeledek gitu sih. Dasar bapak-bapak!” Aina menggerutu sendiri.
“Sampai bertemu lusa ya, Na 😇” Pesan singkat dari Arif.
“Insya Allah”
Pov Arif
Arif mengirim pesan pada salah satu orang kepercayaannya untuk mengecek tiket kereta yang dipesan Aina, sekaligus memesankan tiket kereta dengan jam dan hari yang sama untuknya.
Arif senyum-senyum sendiri membayangkan Aina saat dia tahu Arif menumpangi kereta yang sama dengannya.
Tak perlu menunggu lama, orang kepercayaan Arif sudah berhasil memesankan tiket kereta untuknya. Tak sabar rasanya menunggu lusa, menghabiskan waktu berjam jam dengan wanita yang kini memenuhi ruang hati dan pikirannya.
“Assalamu’alaikum, Nek.” Arif lanjut menelepon Nyonya Hapsari.
“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Rif?”
“Nek, barusan Arif sudah telepon Aina, memastikan lusa untuk berangkat ke kampungnya. Nenek tidak lupa kan???”
“Kamu meragukan ingatan Nenekmu ini?”
“Hehehe, bukan begitu, Nek. Hanya memastikan. Arif juga sudah menanyakan jumlah keponakan Aina, dia punya satu keponakan perempuan usia empat tahun. Tapi, info ini untuk apa sih, Nek?”
“Hadeeehhh, kamu iniiiiii memang betul-betul tidak peka. Nenek butuh info itu supaya bisa menyiapkan hadiah juga untuk keponakannya,” ucap Hapsari penuh dengan kejengkelan lantaran cucunya benar-benar kurang peka.
“Hehehe ya maaf, Nek. Arif kan gak pernah mengalami situasi begini. Oh iya, kapan kita mau beli hadiah untuk keluarga Aina?”
“Nenek sudah beli, tinggal hadiah untuk ponakan Aina saja.”
“Hah?! Nek, tapi jangan terlalu mewah. Nanti khawatir keluarga Aina sungkan dengan kita….”
“Iyaaaaa, Nenek menyesuaikan dengan request mu yang tidak terlalu mewah tapi bermanfaat dan cukup membahagiakan. Lagian kamu ini kenapa sih harus ngumpet dengan latar belakang keluarga kita?”
“Tolonglah, Nek. Kan ini sudah pernah kita bahas dengan Kakek juga. Ada saatnya nanti Arif akan lapang terbuka dengan Aina.”
“Hmmm semoga semua berjalan sesuai harapan ya, Rif. Nenek hanya bisa mendukung dan mendoakanmu.”
“Terima kasih, Nek. Oh iya, untuk keponakan Aina hadiahnya Nenek yang siapkan atau Arif?”
“Biar nanti Nenek saja, sekalian ajak Kakek jalan-jalan.”
“Baiklah Nek. Terima kasih ya Nek, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Hapsari, ponselnya kembali berdering. Ia mengernyitkan dahi dengan rasa malas menjawab panggilan tersebut.
“Hallooo Ariifff…. Apa kabar?”
Terdengar suara wanita manja dari seberang yang membuat Arif reflek menjauhi ponsel dari telinganya.
“Alhamdulillah baik. Langsung saja, ada perlu apa?” tanya Arif dingin.
“kenapa siihhh kamu ketusnya gak hilang? Ah tapi gak apa-apa deh, itu artinya kamu tidak mudah didekati wanita dan setia, hihihi.”
Arif tak bergeming.
“Rif, sekitar dua pekan lagi aku birthday. Aku harap kali ini kamu sempatkan datang ya. Please.”
“Tidak janji, akhir-akhir ini aku sibuk.”
“Hmmm, selalu saja begitu. Terakhir kali kamu datang ke birthday aku sekitar lima tahun lalu loh. Itu pun gak sampai selesai.”
“Aku tidak suka dengan party seperti itu.”
“Aha! Bagaimana kalau aku adakan acara dinner untuk dua keluarga kita sehari setelah acaraku dengan teman-teman? Sekalian membahas hubungan kita. Setuju, kan?”
“Hubungan??? Apa maksudmu?”
“Rif, aku rasa kamu sudah tahu tentang rencana Kakek Dharmawan dan Papaku yang ingin menjodohkan kita berdua.”
“Menjodohkan? Kita??? Maaf aku tidak tertarik.”
“Kok kamu gitu sih, Rif? Memangnya aku kurang cantik?”
“Sudahlah, Aliya. Simpan mimpi dan harapanmu itu, perjodohan itu hanya gurauan semata. Lagipula aku sudah punya calon istri.”
“Hah?! Siapa??? Siapa perempuan beruntung itu, Rif?”
“Nanti kamu akan tahu. Yang jelas kamu tidak perlu lagi berharap denganku. Silahkan cari laki-laki lain.”
“Ta… tapi, Rif….”
“Sudah Aliya, jangan menguji kesabaranku. Terima kasih.”
Arif mengakhiri percakapannya dengan Aliya. Entah mimpi buruk apa yang akan ia alami jika berjodoh dengan Aliya. Gadis manja yang hanya mengerti bagaimana cara menghabiskan uang serta tak ingin disaingi.
POV Aliya
Aliya merasa kesal setelah menelpon Arif. Bagaimana tidak, laki-laki yang sudah lama dibayangkan akan menjadi suaminya ternyata sudah memiliki calon istri. Bisa-bisanya Aliya mengabaikan pergerakan Arif. Ada rasa penasaran yang sangat kuat di dalam hatiya, siapa wanita itu? Siapa wanita yang bisa mencairkan gunung es itu?. Aliya segera turun dari kamarnya untuk menghampiri Papa nya yang sedang bersantai di taman belakang.
“Pah…” Aliya melingkari tangannya pada leher Ayahnya dari belakang.
“Hmmm…. Kenapa? Tumben gak ceria gitu nadanya? Mau belanja apa lagi?”
“Ih, Papa nih sok tau mentang-mentang aku suka belanja.” Aliya menarik kursi untuk duduk.
“Ya, kan anak cantik Papa ini biasanya begitu. hehehe.”
“Gini, Pah. Sebenarnya perjodohanku dengan Arif itu serius atau tidak, sih?”
“Hmmm itu toh, rupanya anak Papa sedang memikirkan pujaan hati ya?”
“Jawab dong, Pah. Jangan bercanda terus.”
“Kamu maunya bagaimana?”
“Ya Papa tau lah, Aliya suka banget sama Arif.”
“Hmmm, begini … Perjodohan itu memang obrolan ringan Papa dan Tuan Dharmawan saja. Tidak terlalu serius, tapi bisa diusahakan.”
“Huft, pantas saja…”
“Kenapa?”
“Baru saja Aliya telepon Arif untuk datang ke acara Aliya, tapi Arif menolak. Dan, Aliya tanya ke Arif tentang perjodohan ini, tapi Arif jawab kalau dia sudah punya calon istri.”
“Oh ya? Masa sih? Kok tidak ada berita apa-apa di kalangan relasi yang lain ya?”
“Ah Papa nih. Jadi gimana dong, Pah? Oh iya, kira-kira siapa ya calon istrinya Arif? Relasi Papah ada yang punya gadis sumuran Aliya?”
“Emmm… ada sih beberapa. Tuan Dharmawan juga kenal mereka.”
Aliya pun meminta daftar nama gadis-gadis tersebut untuk diselidikinya sendiri.
“Tapi, kamu tenang saja. Selama belum terdengar kabar itu di kalangan relasi Papa, itu artinya Tuan Dharmawan kemungkinan belum menyetujui atau tidak menganggap serius calon istri yang diajukan Arif. Dan, kamu masih punya kesempatan.”
Mendengar pernyataan Papa barusan, membuat Aliya kembali percaya diri untuk mendapatkan Arif dan menjadi cucu menantu dari keluarga Dharmawan.
“Pah, tapi bisa kali, Papah sedikit tanya-tanya ke Tuan Dharmawan tentang pernyataan Arif itu. Jika nanti Aliya berhasil menjadi isteri Arif kan Papa juga yang beruntung. Bayangkan saja, kita bisa mengembangkan perusahaan kita dengan popularitas Perusahaan raksasa milik Tuan Dharmawan.”
“Bisa aja anak Papa ini. Lusa Papa ada undangan dari salah satu relasi yang juga mengundang Tuan Dharmawan, coba nanti Papa tanyakan ya.”
“Yeay… Terima kasih Papaku …. Mmmmuuuaaachhh.” Aliya melangkah riang kembali ke kamarnya.
Kreator : Ainuna Zulia
Comment Closed: Senandung Cinta Melangit (Part 12)
Sorry, comment are closed for this post.