Dialog tentang kegelisahan di usia 72 tahun
F: Frans, apa yang membuat kita belum mampu menjalani hari tua ini dengan tenang?
f: Ada rasa tidak aman, terutama dalam kebebasan finansial di masa tua ini.
F: Lalu, apa yang telah kita upayakan?
f: …(terdiam)… Tenanglah, Frans.
F: Tenang yang seperti apa?
f: Kita belum mencapai masyarakat yang sungguh berdaya—masyarakat yang bahagia, harmonis, tenteram, dan sejahtera.
F: Itu persoalan umum. Mengapa sampai membuatmu gelisah—bahkan ingin menyebarkan kegelisahan itu di grup-grup media sosial?
f: Bersyukurlah, Frans… tenanglah. Rasa gagal, bersalah, lemah, tidak dipahami, bahkan kesepian—semua itu nyata. Tantangannya ada pada profesionalitas dan kekuatan institusi.
F: Sepertinya masyarakat kita belum sampai ke tahap itu.
f: Perubahan adalah pekerjaan banyak orang. Ia menuntut keahlian, kesabaran, dan proses pematangan bersama.
F: Jadi kita masih berada di tingkat angan-angan?
f: Mungkin. Namun angan-angan pun adalah awal. Siapa tahu akan lahir “Yusuf” yang membawa visi utuh dan kuat.
F: Tapi kita tetap merasa tidak berdaya. Bagaimana menjawab pertanyaan: “Apa yang harus kita lakukan setelah dikasihi Allah?”
f: “Ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 4:21).
F: Lalu?
f: Semua sudah Tuhan sediakan dalam diri kita. Mari kita pegang janji-Nya (1 Yohanes 5:14–15): bahwa Ia mendengar dan mengabulkan doa yang sesuai dengan kehendak-Nya.
F: Jadi kesimpulannya?
f: Setiap hari kita diajak untuk:
- Menyembah-Nya
- Menantikan kehendak-Nya
- Melaksanakan perintah-Nya
- Berserah sepenuhnya
f: Ketika hati terasa hampa, jadilah saksi Kristus. Kasih-Nya tidak pernah berhenti melingkupi kita.
F: Namun hidup juga berbicara tentang kematian—tentang sesuatu yang harus kita tinggalkan. Mengapa ini perlu disadari?
f: Agar kita peka akan kehadiran “Saudari Maut”, yang setiap saat dapat menutup napas kita.
F: Mengapa kesadaran itu penting?
f: Karena waktu yang tersisa—di usia 72 tahun ini—menjadi sangat berharga untuk menyelesaikan yang belum tuntas.
F: Mengapa waktu ini begitu berarti?
f: Karena di sinilah orang menemukan yang paling utama: Kerajaan Allah. Kesempatan untuk menjalankan kehendak-Nya.
F: Itu yang disebut Carpe Diem?
f: Ya. Nikmatilah hari ini—sebagai panggilan.
F: Mengapa Kerajaan Allah itu penting?
f: Karena di sanalah nilai keabadian berada—tempat manusia berbahagia bersama Tuhan yang ia percayai.
F: Mengapa ada keabadian?
f: Karena “Saudari Maut” adalah pintu. Ia tidak sekadar mengakhiri, tetapi mengantar.
F: Sebelum menutup dialog ini, ada dua hal penting.
Pertama, menjalankan perintah-Nya:
“…supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi…” (1 Yohanes 3:23).
Kedua, kita beruntung memiliki ayah yang menanamkan nilai:
“Melalui PELITA kita wujudkan alam kasih sesama umat.”
f: Benar, Frans. Kita mewarisi iman dan nilai rohani yang tinggi dari orang tua kita. Ingat juga ajaran: Gratia supponit naturam—rahmat membangun di atas kodrat. Dari sanalah kita dapat memberi sumbangsih nyata bagi kebersamaan.
Suasana Hati: Malam dan Pagi yang Berbeda
(Ditulis pada 24 Mei 1974, usia 26 tahun)
Aku seorang muda—dibakar oleh idealisme.
Aku memimpikan dunia yang lebih adil: kemajuan rohani dan jasmani, kehidupan yang layak, damai, dan penuh kasih. Aku ingin kebatilan disingkirkan, kebiasaan lama yang mengikat didobrak.
Dalam bayanganku, kampung menjadi maju lewat koperasi. Relasi antara majikan dan buruh berjalan adil. Kerajaan kebenaran hadir di mana-mana. Semua terasa mungkin—jalan seakan licin, karena semangat menggelora.
Namun kenyataan berkata lain.
Ada pagi-pagi yang terasa kosong. Bangun tanpa arah. Duduk lama, berjalan tanpa tujuan. Semangat yang semalam menyala, pagi ini padam.
Mengapa?
Aku merasa lemah. Terpojok. Seakan seluruh idealisme runtuh oleh bayangan kelemahan diri sendiri. Dada sesak, hati tertekan. Aku kehilangan tenaga untuk bertindak.
Malam memberiku mimpi menjadi pahlawan perubahan.
Pagi menjadikanku manusia yang tak berdaya.
Aku ingat bagaimana aku diajar mencintai negeri ini—melalui lagu-lagu yang sederhana namun mengakar: Indonesia Raya, Padamu Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa.
Cinta itu tumbuh diam-diam, lalu menjadi kesadaran.
Namun kini aku bertanya:
Apakah cintaku hanya tinggal perasaan?
Idealisme tentang bangsa ini terkoyak oleh mereka yang hanya mengejar kepentingan sendiri. Aku muak—dan sekaligus bingung.
Masihkah negeri ini bisa sungguh dicintai oleh semua orangnya?
Aku, Siloyo
Kreator : Franstantri Dharma
Comment Closed: Surat Kepada Diriku
Sorry, comment are closed for this post.