Bab 12 Wisuda Part 2
Di dalam gedung auditorium Universitas Semarang, semua kursi tampak telah terisi dengan para undangan. Wajah-wajah cerah terlihat dari para orang tua yang duduk di bagian kiri podium. Sedangkan wisudawan dan wisudawati duduk berjajar di depan podium. Jangan ditanya betapa ceria dan sumringahnya wajah kami, termasuk wajahku. Hehe. Aku ada di antara teman-teman dari Fakultas Bahasa Inggris. Kami berada di baris ke enam dari podium. Mataku menyapu ke sekeliling ruangan. Hatiku terasa bergetar ketika mengamati ruang auditorium ini. Begini ternyata rasanya wisuda. Ada rasa bangga dan haru yang menyeruak di dada. Perjuangan dan susah payah yang telah kulakukan, akhirnya terbayar. Teringat lagi saat aku harus bekerja keras untuk menyelesaikan skripsi karena sudah diultimatum Bapak. Tapi sebenarnya ada sedikit rasa kecewa kalau ingat bandku. Entahlah, apa yang terjadi dengan teman-teman bandku sekarang.
Selang beberapa waktu kemudian, terdengar MC membacakan susunan acara wisuda. Para hadirin mendengarkan dan mengikuti dengan hikmat. Sesekali terdengar suara tepukan tangan mengakhiri serangkaian pidato yang disampaikan oleh pimpinan universitas. Setelah penampilan paduan suara, akhirnya, saat yang ditunggu tiba. MC membacakan acara wisuda Universitas Semarang angkatan 11. Tak lama kemudian satu per satu wisudawan dan wisudawati dipanggil maju ke podium. Dimulai dari Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian hingga sampai ke Fakultas Bahasa.
“Selanjutnya, dari Fakultas Bahasa, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, dipersilakan naik ke atas podium. Karenina Larasati dengan Nomor Induk Mahasiswa: Nxxxxx. Lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”.”
Tak ayal suara tepuk tangan meriah teman-teman terdengar setelah MC membacakan namaku. Aku tersenyum lebar dan berjalan menuju podium. Sesampainya di depan podium, Bapak Rektor kemudian menjabat tanganku dan memindahkan tali toga. Wajahku tak bisa berhenti tersenyum.
“Selamat, ya,” ujar Bapak Rektor.
“Terima kasih, Pak,” sahutku sambil menjabat tangan beliau. Setelah berpose sejenak dan berfoto bersama Bapak Rektor, aku kembali ke tempat semula.
“Selamat ya, Nin,” ujar Alya ketika aku sudah duduk kembali.
“Makasih ya, Al. Selamat juga untuk kamu. Alhamdulillah kita bisa wisuda bareng ya.”
“Iya, Alhamdulillah. Nggak nyangka ya? Kita ujian skripsi sama-sama. Wisuda juga bareng,” ujarnya sambil tersenyum.
“Iya, Al,” jawabku.
Setelah doa penutup, acara wisuda yang berlangsung sekitar 4 jam akhirnya selesai. Setelah bersalaman dan berpamitan pada teman-teman, aku berjalan menuju pintu keluar untuk mencari bapak dan ibu. Ternyata kedua orangtuaku sudah berdiri menunggu di samping pintu keluar.
“Selamat ya, anakku. Alhamdulillah kamu lulus dengan predikat sangat memuaskan,” ujar Ibuku sambil menciumi aku. Wajahnya tampak sumringah.
“Nggih, Bu. Alhamdulillah akhirnya Nina lulus juga,” jawabku sambil mencium tangan Bapak dan Ibu.
“Ayo sekarang kita kembali ke kos,” sahut Ibu.
“Jangan lupa setelah wisuda dipikirkan juga, langkah apa yang harus kamu lakukan, Nin,” sambung Bapak.
“Oalah, Pak, Pak. Wisudanya saja baru aja selesai, sudah disuruh mikir langkah selanjutnya. Nina biar istirahat dulu, ngono lho, Pak,” sahut Ibu.
“Lha, istirahate aja kesuwen. Nanti malah kesempatannya bisa hilang,” gerutu Bapak. Aku cuma geleng-geleng kepala melihat Bapak dan Ibuku yang saling berdebat.
“Ayo kita kembali ke kos dulu, Pak, Bu. Bapak dan Ibu pasti capek,” sergahku.
“Ayo, Nduk. Ibu wis pegel pol rasane.”
Sebenarnya jarak antara kampus dan kostku tidak begitu jauh. Jalan kaki juga bisa. Tapi karena aku tahu kedua orang tuaku pasti sangat capek seharian duduk, aku lalu menghampiri salah satu taksi yang sudah terparkir di sepanjang jalan di depan kampus.
“Taksi, Mas. Kostnya Pak Ripto,” ujarku kepada sopirnya.
“Gak kadohan kuwi Mbak?” jawab Mas Sopir sambil tertawa.
“Wis to, wis keselen, Mas. Mesakke bapak ibukku mlaku. Rak sah nganggo argo rak wis. Isa, to?” sambungku.
“Ya wis, karo bolo dhewe,” ujarnya.
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam taksi dan pulang ke kost.
Setelah perjalanan selama 10 menit, sampailah kami di kos. Sandra tampak sudah menyambut di depan pintu.
“Selamat yaa Nin,” ujarnya sambil menghambur ke pelukanku.
“Iya, iya. Makasih ya, San. Tahun depan pasti gantian kamu yang wisuda. ” balasku sambil membalas pelukannya.
“Semoga yaa, Nin,” ujarnya lagi.
“Iya, iya. San, mau ganti pakaian dulu. Rasane wis sumuk pol,” sambungku sambil melepaskan diri dari pelukannya.
“Oh, iya, iya. Maaf. Tadi sudah foto belum, Nin?” jawabnya sambil cengengesan.
“Akih iki foto-fotone,” balasku sambil memperlihatkan beberapa lembar foto kepadanya. Aku lalu mengikuti kedua orang tuaku yang sudah masuk kamar duluan.
“Nanti ngobrol lagi ya,” seru Sandra.
“Oke. Aku tak tiduran dulu ya,” sahutku sebelum masuk ke dalam kamar.
“Iyaaa,”
Satu perjuanganku sudah selesai. Tinggal perjuangan selanjutnya. Dan semoga semuanya baik-baik saja.
Keterangan:
- Ngono lho : begitu lho
- Aja kesuwen : jangan lama-lama
- Pegel pol rasane : pegal sekali rasanya
- Gak kadohan kuwi : tidak kejauhan itu
- Wis to, wis keselen : sudahlah, sudah kecapekan
- Mesakke bapak ibukku mlaku : kasihan bapak ibuku jalan kaki
- Rak sah nganggo argo rak wis : nggak usah pakai argo ya.
- Isa to? : bisa kan?
- Ya wis karo bala dhewe : ya sudah dengan teman sendiri
- Rasane wis sumuk pol : rasanya sudah gerah sekali
- Akih iki foto-fotone : banyak ini foto-fotonya.
Kreator : Klara Rosita
Comment Closed: Tersesat di Jalan Yang Benar Bab 12 Part 2
Sorry, comment are closed for this post.