Bab 13 Setelah Wisuda
Sehari setelah wisuda, kedua orang tuaku pulang naik travel. Saat memasuki kendaraan Bapak berpesan untuk segera mencari pekerjaan dan jangan menganggur terlalu lama. Aku hanya bisa mengangguk sambil mencium tangan Bapak dan Ibu.
Sore harinya di kamar kos, aku berbaring menatap langit-langit bersama Sandra. Kebetulan Sandra tidak ada jadwal kuliah sore, sehingga kita bisa mengobrol santai di kamarku.
“Habis ini, kamu mau ngapain, Nin?” suara Sandra memecah keheningan.
“Entahlah, San. Aku juga bingung mau ngapain. Bapakku sih, maunya aku cepat-cepat kerja. Kebetulan Bapak punya info lowongan pekerjaan dari temannya,” sahutku.
“Wah, enak dong,” ujar Sandra sambil menatapku.
“Enak apa, San? Bapak mintanya aku jadi guru,” sungutku.
“O, lowongan kerjanya jadi guru, ya?” jawab Sandra.
“Iya, jadi guru honor Bahasa Inggris SD,” sambungku sambil berbalik memunggunginya.
“Nggak apa-apa, kali, Nin. Jadi guru pekerjaan mulia. Soal gaji jangan dipikirin dulu, yang penting kamu bisa mengamalkan ilmu yang kamu dapat di bangku kuliah. Kamu kan, jurusan Bahasa Inggris. Cocok jadi guru Bahasa Inggris,” sambung Sandra sambil menepuk punggungku.
“Aku masuk jurusan Bahasa Inggris, karena suka, San. Bukan mau jadi guru Bahasa Inggris. Impianku jadi penyanyi rock, seperti Nicky Astria. Susah payah aku berjuang, ikut festival sana sini. Kemarin-kemarin sudah lumayan bisa sampai masuk radio dan koran, eh, sekarang malah jadi seperti ini,” gerutuku sambil membalikkan badanku menatap Sandra.
“Iya, iya. Itu namanya, belum rejeki jadi penyanyi. Apalagi orang tuamu juga tidak setuju. Kamu coba dulu saja deh, info lowongan dari Bapak. Siapa tahu ketrima,” ujar Sandra.
“Atau … kalau kamu masih pengen jadi penyanyi, bisa aja setelah pulang ngajar, kamu perform di acara yang ada di sekitar tempat kerjamu,” sambungnya lagi.
“Acara apa, San? Tempatnya jauh di kaki bukit. Adanya juga pawai tujuh belasan,” gerutuku.
“Ya, nggak apa-apa dong, kamu nyanyi rock pas pawai tujuh belasan? Malah bisa jadi trendsetter, kan?” jawab Sandra sambil berdiri di atas kasur dan melakukan headbang.
“Hahaha. Yang ada aku malah dikira orang gila,”
Aku tertawa sambil melemparkan bantal ke arahnya.
“Lha, gimana sih? Aku kan ngasih saran dan pendapat,” ujarnya sambil cemberut.
“Iya, iya. Terima kasih sarannya temanku yang cantik dan baik hati,” kataku sambil duduk dan menatap wajahnya.
”Untuk sementara waktu, aku mau tinggal di kos ini dulu sampai akhir bulan,” sambungku lagi.
“Asyik, kamu bisa nemenin aku, dong,” serunya sambil memelukku.
“Hehe, iya, tapi jangan senang dulu. Aku mau ke Jogja dua atau tiga hari lagi,” ujarku.
“Mau ngapain ke Jogja, Nin?” tanyanya heran.
“Mau cari masku, Mas Dimas. Sudah sekitar empat tahun aku nggak ketemu dia. Sejak dia memutuskan berhenti kuliah,” jawabku.
“Iya, deh. Terserah kamu saja. Yang penting kamu tetap di kos ya,” sambung Sandra.
“Cuma sampai akhir bulan, San. Setelah itu, aku nggak tahu apa yang harus kulakukan,” ujarku lagi.
“Pusing aku dengarnya Nin. Belum lulus pusing, sudah lulus juga pusing,” sahut Sandra.
Aku tertawa mendengarnya,” Yah, begitulah dunia orang dewasa, San.”
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi ke rumah teman akrab masku, yaitu mas Rian. Beberapa kali aku ketemu dia, ternyata Mas Rian bekerja di kampus tempat aku belajar sebagai staf administrasi. Waktu itu aku sempat tanya di mana rumahnya.
Sepeda motor milik Sandra kuparkir di halaman sebuah rumah yang terlihat asri. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya aku menemukan rumah ini.
“Assalamua’laikum,” ujarku sambil mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam.”
Ketika pintu dibuka tampak wajah Mas Rian dari balik pintu.
“Oh, Nina, ayo silahkan masuk,” sapa Mas Rian.
“Iya, Mas. Terima kasih, “ jawabku sambil masuk dan duduk di ruang tamu.
Kami berdua duduk saling berhadapan.
“Gimana kabarnya, Nin? Oh iya, kemarin kamu wisuda ya? Selamat ya, atas wisudanya,” kata Mas Rian sambil mengulurkan tangan kepadaku.
Aku menyambutnya sambil tersenyum.
“Terima kasih, Mas. Emm.. sebenarnya Nina ke sini ini, ada perlu sama Mas Rian,” ujarku.
“Iya, Nin. Mas sudah tahu. Kamu pasti mau tanya alamat Dimas, kan?” jawabnya sambil menatapku.
Aku menggangguk. Mas Rian menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab.
“Sekarang ini masmu ada di Jogja. Dia bersikeras untuk menjadi pelukis, walaupun harus putus kuliah. Sebenarnya Mas menyayangkan tindakannya, tapi mau bagaimana lagi, memang itu yang diinginkannya ,” kata Mas Rian.
“Iya, Mas. Mas Dimas benar-benar marah sama Bapak,” sambungku sambil menunduk.
“Bapakmu benar-benar keras. Bahkan jurusan kuliah Dimas juga harus sesuai keinginan beliau. Beberapa kali Dimas cerita sama aku, kalau sebenarnya dia ingin berhenti dari kuliahnya,” sambung Mas Rian.
“Itu karena Bapak ingin Mas Dimas jadi insinyur, Mas,” jawabku lirih.
“Iya, Nin. Maaf ya, kalau Mas boleh tahu, sebenarnya kamu ingin ketemu masmu untuk apa? Karena Dimas berpesan, tidak boleh ada yang tahu sekarang dia di mana,” ujarnya.
“Nina kangen, Mas. Nina ingin ketemu sama masku satu-satunya. Sudah empat tahun Nina tidak pernah tahu bagaimana dia sekarang,” jawabku sambil menunduk.
“Kecuali itu, memang ada beberapa hal yang ingin Nina bicarakan sama Mas Dimas,” tambahku.
“Iya, Nin. Mas mengerti sekali apa yang kamu rasakan. Dimas adalah kakakmu. Bagaimanapun juga kalian bersaudara yang harus terpisah karena keadaan,” ujar Mas Dimas.
“Sebenarnya Dimas sekarang ini membuat komunitas melukis di Jogja. Dia bersama teman-temannya membuka sanggar melukis. Namanya Sanggar Lukis Adinda, alamatnya di Tawangharjo, Kecamatan Sewon, Bantul. Di sana Dimas dan teman-temannya mengajar melukis untuk anak-anak dan dewasa. Coba saja cari di sana, Nin,” jelas Mas Rian.
“Dari dulu, Mas Dimas memang suka sekali melukis. Melukis adalah dunianya. Tapi sayangnya, Bapak tidak bisa memahaminya,” ujarku sedih.
“Seandainya saja, Bapak dan masmu bisa mencari jalan tengah, mungkin saja semuanya tidak seperti ini,” sambung Mas Rian.
“Iya, Mas. Itu semua karena Bapak menginginkan anaknya menjadi insinyur. Makanya Bapak minta Mas Dimas kuliah di jurusan Arsitektur. Walaupun Mas Dimas tidak suka jurusan itu,” tambahku.
“Dan memang terbukti, Dimas tidak betah kuliah di situ,” jawab Mas Rian.
“Betul, Mas. Terima kasih informasinya, ya. Nina akan cari Mas Dimas. Sekalian Nina mau pamit dulu, ya, Mas. Sudah sore,” ujarku berpamitan pada Mas Rian.
“Iya, Nin. Hati-hati, ya,” jawab Mas Rian.
Aku lalu pamit pada Mas Rian dan kembali ke kos. Rasanya aku melihat sosok Mas Dimas pada diri Mas Rian. Tidak dapat kuingkari aku memang merindukan kakakku. Semoga aku bisa menemukannya.
Kreator : Klara Rosita
Comment Closed: Tersesat di Jalan Yang Benar Bab 13
Sorry, comment are closed for this post.