Untuk mereka yang pikirannya penuh, tetapi halamannya masih kosong. Ada orang yang tidak kekurangan kemampuan, tetapi tetap sulit bergerak. Ia membaca banyak, berpikir dalam-dalam, memahami teori, bahkan pernah meraih keberhasilan akademik. Ketika harus menghasilkan karya mandiri—proposal, skripsi, tesis, disertasi, artikel, atau buku—semuanya terasa tertahan. Buku ini membahas pengalaman batin yang sering tersembunyi di balik penundaan: […]
Bagian III-Mengubah Kemacetan Menjadi Gerak Bab 11-Menulis Sebagai Tindakan Keberanian Pada akhirnya, menulis bukan hanya soal menyusun kata. Menulis bukan sekadar memindahkan bacaan ke dalam paragraf. Bukan hanya merangkai teori. Bukan hanya memenuhi tuntutan akademik. Bukan hanya menghasilkan proposal, disertasi, artikel, laporan, atau buku. Menulis adalah tindakan keberanian. Sebab ketika kita menulis, kita sedang […]
Bagian III-Mengubah Kemacetan Menjadi Gerak Bab 10-Berdamai dengan Diri yang Tidak Sempurna Ada saat ketika seseorang mulai bergerak kembali. Ia sudah tidak lagi hanya membaca tanpa batas. Ia mulai menulis. Ia sudah tidak lagi hanya berpikir dalam kepala. Ia mulai menurunkan sebagian gagasan ke dalam halaman. Ia sudah tidak lagi memandang proposal sebagai gunung […]
Bagian III-Mengubah Kemacetan Menjadi Gerak Bab 9-Memecah Proposal Menjadi Potongan Kecil Salah satu alasan proposal terasa menakutkan adalah karena kita sering memandangnya sebagai satu benda yang besar. Proposal disertasi dibayangkan sebagai naskah utuh yang harus langsung lengkap: latar belakang yang kuat, rumusan masalah yang tajam, tujuan penelitian yang jelas, manfaat penelitian yang meyakinkan, tinjauan […]
Bagian III-Mengubah Kemacetan Menjadi Gerak Bab 8-Tulisan Pertama Tidak Harus Menjadi Tulisan Terbaik Ada satu kesalahpahaman yang sering membuat orang sulit menulis: mengira bahwa tulisan pertama harus sudah sempurna. Kita duduk di depan laptop dengan harapan yang terlalu besar. Kalimat pertama harus kuat. Paragraf pertama harus mengalir. Latar belakang harus langsung tajam. Rumusan masalah […]
Bagian II-Terperangkap di Dalam Kepala Bab 7-Sindroma Impostor: Ketika Pencapaian Tidak Pernah Terasa Sah Ada orang yang berhasil, tetapi tidak merasa berhasil. Ada orang yang memiliki pencapaian, tetapi sulit mempercayai pencapaiannya sendiri. Ia dapat menyelesaikan pendidikan, melewati ujian, menerima penghargaan, dipercaya untuk memegang tanggung jawab, atau memperoleh pengakuan dari orang lain. Di dalam dirinya, […]
Bagian II-Terperangkap di Dalam Kepala Bab 6-Perfeksionisme yang Menyamar sebagai Standar Tinggi Perfeksionisme jarang muncul dengan wajah yang baik. Ia sering datang dengan wajah yang tampak mulia. Ia berbicara dengan bahasa yang terdengar baik. Ia mengatakan bahwa kita harus bersikap serius. Harus teliti. Harus bertanggung jawab. Harus menghasilkan karya yang kuat. Harus menjaga mutu. […]
Bagian II – Terperangkap di Dalam Kepala Bab 5-Terlalu Banyak Berpikir Berpikir adalah awal dari hampir semua karya. Sebelum sebuah kalimat ditulis, ada pikiran yang mendahuluinya. Sebelum sebuah proposal disusun, ada pertanyaan yang muncul terlebih dahulu. Sebelum sebuah penelitian dilakukan, ada kegelisahan intelektual yang mendorong seseorang untuk mencari jawaban. Dalam dunia akademik, berpikir bukan […]
Bagian II-Terperangkap di Dalam Kepala Bab 4-Terlalu Banyak Membaca Membaca adalah jalan masuk menuju pengetahuan. Tidak ada pendidikan tinggi tanpa membaca. Tidak ada penelitian tanpa membaca. Tidak ada tulisan akademik yang kuat tanpa perjumpaan dengan gagasan orang lain. Buku, artikel ilmiah, laporan penelitian, disertasi terdahulu, catatan teori, dan berbagai sumber pengetahuan merupakan bahan baku […]