IZIN (12) Malam berganti siang, membawa janji menuju hak untuk ditunaikan. Selepas shalat Ashar, Aina inisiatif untuk berkunjung ke rumah ndalem untuk bertemu Ummi Halimah dengan maksud izin pulang kampung. Ia tidak berniat menjelaskan detail alasannya pulang kampung. Aina tidak ingin menimbulkan pertanyaan lebih banyak untuk saat ini, terlebih beberapa waktu lalu Ia tidak bisa […]
Pagi itu, udara masih terasa segar saat aku dan Abah berjalan beriringan pulang dari masjid. Tangan kami bertaut, sebuah keintiman sederhana yang sering menjadi pengisi energi bagi jiwaku yang mulai rapuh oleh rutinitas. “Bah,” panggilku pelan, mencoba membuka percakapan tentang kejadian semalam saat ia mengajar privat. “Mas Ul tadi dengar adzan, tapi malah asyik bersepeda. […]
Di perkampungan Teppo, sebuah sudut tenang di Kecamatan Patampanua,Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, senja selalu turun seperti selendang jingga yang disampirkan langit di bahu bumi. Sawah-sawah membentang laksana permadani hijau, sementara angin berlari kecil di sela batang padi seperti anak-anak yang bermain petak umpet. Di belakang persawahan berdirilah sebuah rumah yang cukup sederhana. Di rumah itulah […]
Di hamparan waktu yang mengering di atas jalan, dua bayang bertaut dalam sunyi, seperti sepasang aksara yang ditulis takdir dengan tinta cahaya. Genggaman itu terlihat utuh, sehangat senandung yang lahir dari dada yang tak pernah belajar curiga. Namun cahaya hanya pandai melukis rupa, ia tak pernah mengungkap isi. Di antara garis-garis gelap yang beriring, terselip […]
Alarm kamarku berbunyi. Seperti biasa, aku bangun pukul lima pagi. “Ara.. Kamu biasa bangun jam segini?!” ucap Kak Sisi sembari mengucek kedua matanya pelan. Aku mengiyakan hal itu, lalu beranjak dari tempat tidur meninggalkan Kak Sisi yang masih berkutat di atas tempat tidur. Ku kunjungi area dapur guna menyiapkan sarapan baik untukku maupun Kak Sisi. […]
Mendengar kata “kecemasan” di antara masyarakat yang didampingi dengan berbagai teknologi modern dan pemenuhan kebutuhan instan, terdengar tak relevan. Namun, pada kenyataanya generasi modern saat ini lebih mudah terdistraksi oleh kecanggihan teknologi yang semakin mencuat, tanpa dibentengi dengan self awareness dan bounderie, kecemasan bisa saja hadir tanpa disadari. Makanya, kondisi lingkungan yang diidamkan kini adalah […]
Memulai perjalanan penuh warna,selalu ada kegembiraan selain kesedihan dalam setiap perjalanan. Tidak sedikit cerita tentang pasangan pernikahan yang tidak berumur lama oleh berbagai sebab. Dalam perkawinan, cinta diuji oleh berbagai tantangan dan cobaan. Ada yang berhasil melewati badai dan mencapai kebahagiaan, tapi ada juga yang terhempas oleh gelombang dan harus berpisah. Seperti itu orang biasa menggambarkan setiap perkawinan yang terjadi. Tetapi tidak untuk kita, darling, cintaku padamu akan tetap terpadu sampai akhir hayat. Aku senang apabila kau sedikit heran padaku yang nampak dari kerut keningmu. Atau sedikit tawamu, itu sudah cukup memberi tanda gembira untukku agar selalu berani memulai lagi dan memulai lagi perjalanan ini. Foto-foto hasil jepretan Romo Broto telah menjadi saksi untuk mengawali perjalanan kita dari kota Bogor. Juga ada saat lain ketika alam masih ramah dan belum dicemari apa-apa, kita berpacaran di Rawa Kalong. Foto-foto telah mengabadikan kehadiran kita bersama sepasang penganten baru, Kirto dan Kristi di depan hamparan rawa yang luas. Janji pun terucap agar dapat menjadi sahabat karib mereka. Seperti itu gambaran awal dari cinta yang membahagiakan dan menjadi idam-idaman kita, bukan………. Tak mungkin ada duka pada akhir cinta, sebab engkau dan aku terpanggil oleh-Nya, bukan semata kebetulan, bukan semata nasib. Kesediaanmu untuk mendampingi aku dalam suka dan duka telah menguatkan diriku untuk berjuang. Kini kita berada di masa 25 tahun perjalanan perkawinan dan masih ada 25 tahun lagi untuk menjadi penanda di tahun emas cinta kita. Selanjutnya bahtera kehidupan kita akan terus menuju dan tiba di pelabuhan idam-idaman kita. Cinta yang lebih kuat dan tahan lama Keberhasilan dalam perkawinan tidak datang dengan sendirinya, tapi harus diperjuangkan. Cinta perlu bertumbuh, melayani dan menguduskan. Pasangan harus belajar untuk saling memahami, memaafkan, dan menerima kekurangan masing-masing. Berbekal pesan-pesan ini, aku mendapat tugas dari bapak mertua untuk memberikan sambutan dalam perkawinan adik iparku, Edy dan calon istrinya Yuli. Dalam pencarian bahan sambutan terbesit dalam ingatanku akan 2 kalimat berbahasa Jawa yang tertera di atas dinding tempat pelaminan pada saat kami menikah. 1. “Becik Ketitik, Olo Ketoro” artinya “Yang baik akan diketahui, dan yang buruk akan kelihatan juga. 2. “Ajining Diri Ana Ing Kedaling Lati”, artinya “Harga diri seseorang terletak pada ucapan kata-katanya.” Dalam kata sambutan, aku mengajak para tetamu untuk mendoakan, agar mereka menemukan kebahagiaan dalam membentuk keluarga yang baru. Pancaran cinta Edy dan Yuli kiranya tertuang dalam syair lagu “Ängan-angan”, gubahan Tirto Saputro. Angan-angan Pertama ku mengenalmu menatap penuh rasa mesra pandangannya menembus kalbu, o! betapa indahnya, betapa nikmatnya senyummu hias di wajahku bila aku bermesra denganmu merasa dan terasa akan tumbuh cinta di hatiku baru ini dalam hidupku kudambakan kasih sayang dia betapa bahagia terpadu satu denganmu memadu kasih saling janji sehidup semati O! tak mungkin akan ingkar janji mendambakan kasih sayangmu O! Aku bukan kegagalan Namun, tidak semua perkawinan berakhir dengan bahagia. Ada yang harus mengalami kegagalan, kesedihan, dan luka. Tapi, kegagalan tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Ada pelajaran yang dapat dipetik, dan ada kesempatan untuk memulai lagi. Kepedihan melanda hatiku, saat kuterima kabar dari adik iparku lainnya. Demikian ia menulis: “Kan kamu yang meminta aq menjauh dari hatimu. Kamu juga yang bilang, kalau kau masih ragu padaku. Setelah rasa yang kautanam semakin dalam. Setelah berhasil kuikhlaskan hatiku. […]
Lampu stadion padam serentak. Empat puluh ribu titik cahaya biru elektrik membentuk lautan bintang di depan panggung. Layar raksasa mulai memancarkan angka: 10, 9, 8. Suara teriakan mengguncang dinding stadion, namun di balik panggung, kelima orang itu bergerak dalam sunyi yang terlatih. Woojin menarik napas panjang. Tangan kirinya mengepal, lalu melepaskannya lagi. “Ini terakhir,” bisiknya. […]
Dalam dunia imajinasi apapun bisa terjadi, termasuk desa, kota, dan berbagai tempat indah. Nah salah satunya adalah Air Terjun Stroberi, tapi sebelum itu terjadi terdapat kisah sedih di dalamnya. Apakah kisahnya? mari kita simak ya. Di sebuah desa yang dikenal dengan kualitas buah yang melegenda bernama Desa Stroberi, tapi hampir semua penduduk di desa […]